Merasa Sehat Belum Tentu Aman: Pentingnya Skrining Gula Darah dan Asam Urat
<p class="ql-align-justify">Pernah nggak sih merasa baik-baik saja, tapi tiba-tiba tubuh cepat lelah, sering pegal, atau gampang haus? Banyak orang merasa sehat karena nggak ada keluhan berarti, padahal kondisi tubuh sebenarnya perlu dicek secara berkala. Di sinilah <a href="https://home.kilauindonesia.org/berita/Ternyata-Cewek-Juga-Bisa-Ikut-Tes-Smokerlyzer" target="_blank">skrining</a> kesehatan jadi penting, terutama skrining gula darah dan asam urat.</p><p class="ql-align-justify"><br></p><p class="ql-align-justify">Skrining gula darah berperan untuk mengetahui kadar gula dalam tubuh sejak dini. Kadar gula yang terlalu tinggi bisa menjadi tanda awal diabetes, sementara kadar yang terlalu rendah juga dapat memicu gangguan kesehatan. Sayangnya, perubahan kadar gula darah sering kali tidak langsung menimbulkan gejala yang jelas, sehingga pemeriksaan rutin menjadi langkah pencegahan yang krusial.</p><p class="ql-align-justify"><br></p><p class="ql-align-justify">Hal serupa juga berlaku pada asam urat. Kadar asam urat yang berlebih tidak hanya memicu nyeri sendi, tetapi dalam jangka panjang dapat berdampak pada fungsi ginjal dan kualitas hidup. Pola makan, aktivitas <a href="https://home.kilauindonesia.org/berita/Terangi-Sudut-Jalanan-dengan-Makanan,-Kilau-Bantu-Pekerja-Harian" target="_blank">harian</a>, hingga usia menjadi faktor yang memengaruhi kondisi ini. Tanpa skrining, banyak orang baru menyadari masalahnya saat rasa nyeri sudah mengganggu aktivitas sehari-hari.</p><p class="ql-align-justify"><br></p><p class="ql-align-justify">Secara nasional, masalah gula darah dan penyakit sendi masih menjadi tantangan kesehatan yang besar. <strong>Federasi Diabetes Internasional (International Diabetes Federation/IDF)</strong> mencatat bahwa lebih dari <strong>20 juta orang dewasa di Indonesia hidup dengan diabetes</strong>, dengan prevalensi mencapai <strong>11,3% dari total penduduk dewasa</strong>. Sementara itu, <strong>data Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan </strong>menunjukkan prevalensi penyakit sendi di Indonesia mencapai <strong>24,7% berdasarkan gejala dan diagnosis</strong>, dan <strong>11,9% berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan</strong>. Asam urat menjadi salah satu penyakit sendi yang paling banyak ditemukan, dengan angka prevalensi yang terus meningkat seiring bertambahnya usia, mulai dari <strong>1,2% pada kelompok usia 15-24 tahun</strong>, hingga hampir <strong>19% pada usia di atas 75 tahun</strong>.</p><p class="ql-align-justify"><br></p><p class="ql-align-justify">Kesadaran akan pentingnya skrining kesehatan inilah yang membuat pemeriksaan rutin perlu dilakukan secara lebih dekat dengan masyarakat, termasuk di ruang-ruang yang ramah dan mudah dijangkau. Rumah baca, misalnya, bukan hanya menjadi tempat bertukar ilmu, tetapi juga bisa bertransformasi menjadi ruang kepedulian terhadap kesehatan bersama.</p><p class="ql-align-justify"><br></p><p class="ql-align-justify">Sebagai bagian dari upaya tersebut, pada <strong>Kamis (11/12), Kilau Indonesia berkolaborasi dengan Yayasan Al Ikhlas Paseh Kaler</strong>, Sumedang dengan dukungan <strong>UPTD Puskesmas Paseh</strong>, menggelar <a href="https://home.kilauindonesia.org/berita/Aksi-Berbagi-Sehat-Menyapa-142-Penerima-Manfaat-di-Sumedang" target="_blank"><strong>Aksi Berbagi Sehat</strong></a><strong> Gratis</strong> di Rumah Baca Alif, Dusun Parumasan, Desa Paseh Kaler, Sumedang. Kegiatan ini melayani <strong>107 penerima manfaat</strong> melalui skrining kesehatan, pemeriksaan gula darah dan asam urat, serta pemberian obat-obatan secara gratis.</p><p class="ql-align-justify"><br></p><p class="ql-align-justify">Lewat kegiatan ini, skrining kesehatan diharapkan tidak lagi dianggap sebagai sesuatu yang menakutkan, melainkan sebagai langkah sederhana untuk lebih peduli dan jujur pada kondisi tubuh sendiri.</p>