Kilau Buka Ruang Belajar bagi Mahasiswa Poltekesos
<p class="ql-align-justify">Dunia pendidikan tidak selalu berhenti di ruang kelas. Pengalaman langsung di tengah masyarakat justru menjadi bagian penting untuk memahami bagaimana pekerjaan sosial dijalankan. Hal tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam<strong> pertemuan Politeknik Kesejahteraan Sosial (Poltekesos) Bandung</strong> dengan <strong>Kilau Indonesia, Kamis, 20 Agustus 2026.</strong></p><p class="ql-align-justify"><br></p><p class="ql-align-justify">Pertemuan yang berlangsung di <em>Poltekesos Bandung </em>itu membahas peluang kerja sama antara dunia pendidikan dan lembaga pelayanan sosial. Bagi mahasiswa, ruang seperti ini dapat menjadi kesempatan untuk mengenal lebih dekat dinamika pekerjaan sosial sekaligus mengembangkan <em>kompetensi </em>yang relevan dengan kebutuhan di lapangan.</p><p class="ql-align-justify"><br></p><p class="ql-align-justify"><strong>Wakil Direktur Bidang Kemahasiswaan</strong> dan <strong>Alumni Poltekesos Bandung, Moch. Zaenal Hakim</strong>, menyampaikan bahwa kerja sama dengan lembaga pelayanan sosial dapat memberikan ruang belajar yang lebih luas bagi mahasiswa. Menurutnya, <em>kolaborasi</em> tersebut diharapkan dapat memberi manfaat bagi kedua pihak, termasuk dalam pengembangan kompetensi mahasiswa dan kebutuhan sumber daya manusia pekerja sosial.</p><p class="ql-align-justify"><br></p><p class="ql-align-justify">Dari pihak <strong>Kilau Indonesia</strong>, pertemuan dihadiri <strong>Ahmad Nasrullah</strong>, selaku <strong>Direktorat Program dan Marketing</strong>, serta <strong>Soni Sopian</strong>, <strong>Kepala Kilau Indonesia Cabang Bandung</strong>. Pertemuan turut dihadiri <strong>Rosilawati</strong>, <strong>Sinta Yulianti Suyono,</strong> <strong>Dyah Asri Gita Pratiwi</strong>, <strong>Ketua Tim Kerja Kemahasiswaan </strong>dan <strong>Alumni</strong>, serta <strong>Ketua Tim Kerja Kehumasan dan Kerja Sama Poltekesos Bandung</strong>.</p><p class="ql-align-justify"><br></p><p class="ql-align-justify">Pertemuan ini menjadi langkah awal untuk membuka ruang yang lebih luas antara pembelajaran akademik dan pengalaman di lapangan. Sebab, menjadi pekerja sosial bukan hanya soal memahami teori, tetapi juga tentang bagaimana pengetahuan tersebut diterapkan ketika berhadapan langsung dengan kebutuhan masyarakat</p>